Sumber:http://poskotanews.com/2016/06/04/ketika-muhammad-ali-menghancurkan-kedigdayaan-george-foreman
JAKARTA – Pertandingan  Muhammad Ali melawan George Foreman dicatat sejarah sebagai  mega laga di arena tinju dunia. Kala itu, Muhammad Ali hanya dilihat sebelah mata, mengingat Foreman merupakan petinju terhebat dan dianggap sulit dikalahkan.
Apalagi, sebelumnya Ali telah menelan kekalahan dan gelar Juara dunia kelas berat harus lepas dari tangannya. Itu terjadi ketika pada 8 Maret 1971, Ali kalah angka dari Joe Frazier di New York, dan harus menyerahkan gelarnya.
Tapi, Ali yang dikenal dengan big mouth (si Mulut Besar) justru menantanganya untuk bertinju di alam bebas tanpa penoton, pokoknya di jauh di luar Amerika Serikat.
Pertandingan pun akhirnya digelar di Afrika, tepatnya di kota Kinshsa, Zaire. Ini berkat kenekatan promotor Don King, yang yakin, meski di ujung dunia, partai besar itu pasti ditonton orang berduti.
Itulah sebabanya, karena jauhnya lokasi pertandingan dan berada di negara miskin di Afrikan, maka duel George Foreman dan Muhammad Ali, yang juga disebut “The Rumble in The Jungle“.
Don King mengakatan, untuk menggelar laga ini membutuhkan dana sebenar $5 juta. Don King akhirnya mendapat sponsor, yaitu Presiden Zaire, Mobutu Sese Seko, yang ingin laga dihelat di negaranya. Pertarungan Foreman vs Ali pun akhirnya pasti digelar di Kinshasa, Zaire.
Pada saa itu, Ali berusia 32 tahun, ia berhasrat merebut kembali sabuk juara dunia kelas berat WBC dan WBA, yang lepas ke genggaman Joe Frazier, 3 tahun sebelumnya.
Sedangkan Frazier akhirnya kehilangan titel tersebut setelah dikalahkan Foreman pada 22 Januari 1973. Foreman dan Ali menghabiskan musim panas untuk berlatih di Zaire.
Salah satu tujuannya, untuk aklimatisasi. Berlatih hingga ke jalanan, Ali pun terus dielu-elukan rakyat Zaire. Mereka tak henti-hentinya meneriakkan “Ali bomaye!” (Ali, bunuh dia!).
Dasar Big Mouth, mulut besar Ali sebelum pertarungan, tak berhenti mengoceh.”George Foreman itu cuma mayat hidup yang besar. Secara resmi, saya sudah menamainya, ‘The Mummy’. Pergerakannya lambat seperti mumi, dan tak akan ada mumi yang akan mengalahkan Muhammad Ali yang hebat.”
Ini jelas untuk membakar emosi George Foreman. Namun, saat pertarungan tiba, Ali kewalahan menghadapi pukulan bertubi-tubi Foreman, khususnya sejak ronde 2. Segalanya tampak akan berakhir bagi Ali.
Terlebih, Foreman yang saat itu masih berusia 25 tahun, diyakini unggul stamina. Namun, Ali tetap bertahan. “Dia tak banyak berbicara pada ronde 3, dan saya memukulnya dengan keras di bagian sisi, tapi kemudian menyandar pada saya dan berkata, ‘Cuma itu yang kamu punya, George?’ Itu membuat saya takut. Saya tahu ini akan menjadi masalah,” kata Foreman dilansir BBC.
Rencana Rahasia
Usai ronde 7, Ali menghadap para pendukungnya dan memimpin mereka untuk meneriakkan “Ali bomaye!” berulang kali. Jelas, hal tersebut membuat Foreman keheranan.
Kemudian sebelum memasuki ronde 8, Ali berbicara kepada pelatih dan fansnya, Angelo Dundee, kalau dia memiliki rencana rahasia untuk Foreman. Ronde 8, Ali terus menempel pada tali, sedangkan Foreman melepaskan pukulan demi pukulan. Strategi itu kemudian disebutnya, rope-a-dope.
Benar, strategi itu jitu, Foreman kehabisan tenaga, sedangkan Ali berbalik menyerang dan melepaskan pukulan. Pukulan mendarat di wajah Foreman dan membuatnya KO. Ali pun mendapatkan kembali titel juara dunia. Ketika itu pula sebagai kenyaataan Muhammad Ali menghancurkan kedigdayaan George Foreman
“Saya tak percaya kehilangan titel juara dunia. Ini semestinya menjadi laga yang mudah, tapi malah jadi momen paling memalukan dalam hidup saya. Benar-benar menghancurkan (saya),” kata Foreman.
Namun, usai pertarungan bersejarah tersebut, mereka berteman dekat. Foreman, yang pada awalnya kesal dan penuh kebencian terhadap Ali, lalu berubah 180 derajat. Dan, jika sebelumnya tak terima, dia kemudian mengakui. “Saya kalah. Dia mengalahkan saya.  Kami menjadi teman baik. Sejak 1984, kami saling menyayangi,” kat Foreman. (*/win)